Jumat, 11 Oktober 2019

Keraton Kasepuhan Cirebon

MAKALAH
KEBUDAYAAN DI DAERAH CIREBON
(Keraton Kasepuhan Cirebon)


 Image result for logo gunadarma



Disusun oleh
 Alissa Qotrunnada Munawwaroh : 10219545




KELAS 1EA08
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA

Depok, Oktober 2019





KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Keraton Kasepuhan Cirebon” dengan lancar. Penulis menyadari bahwa makalah ini tidak lepas dari banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap pembaca dapat memberikan kritik maupun saran. Kritik dan saran tersebut akan menjadi bahan evaluasi penulis kedepannya.

Depok, 11 Oktober 2019.

Penulis





Daftar Isi

BAB I.......................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN...................................................................................................................... 4
1.1. Latar Belakang..................................................................................................................... 4
1.2. Rumusan Masalah................................................................................................................ 4
1.3. Tujuan Penulisan.................................................................................................................. 5
1.4. Manfaat Penulisan............................................................................................................... 5
BAB II......................................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN........................................................................................................................ 6
2.1. Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon.................................................................................. 6
2.2. Tata Letak dan Arsitektur................................................................................................... 7
2.3. Koleksi – Koleksi yang Ada Di Keraton Kasepuhan Cirebon............................................ 9
2.4. Daya Tarik Keraton Kasepuhan Cirebon............................................................................ 10
2.4.1. Keunikan Tatanan Jalan Masuk Keraton......................................................................... 10
2.4.2. Keindahan Arsitektur...................................................................................................... 10
2.4.3. Akulturasi Agama dan Budaya........................................................................................ 10
2.5. Wisata Budaya Keraton Kasepuhan................................................................................... 11
BAB III...................................................................................................................................... 13
PENUTUP................................................................................................................................. 13
3.1. Kesimpulan........................................................................................................................ 13
3.2. Saran................................................................................................................................... 15






BAB I

PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang

            Propinsi Jawa Barat merupakan propinsi yang masyarakatnya dikenal sebagai masyarakat yang agamis, dengan kekayaan warisan budaya dan nilai – nilai luhur tradisional. Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah suku Sunda. Selain itu, ada campuran Sunda dengan Jawa di pantai utara Cirebon serta sebagian kecil pesisir Indramayu. Kita harus mengenal dan mempelajari kebudayaan yang ada di Jawa Barat, contohnya kebudayaan di daerah Cirebon. Cirebon merupakan salah satu wilayah di nusantara yang memiliki sejarah panjang kebudayaan Islam. Cirebon adalah kota yang memiliki aset sejarah yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan sejarah yang memiliki nilai historis yang cukup dikenal tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di Mancanegara. Salah satu peninggalan sejarah tersebut berupa bangunan megah yang berfungsi sebagai istana, atau biasa disebut keraton. Keraton yang cukup terkenal di Cirebon salah satunya adalah Keraton Kasepuhan.
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo di dalamnya. Keraton Kasepuhan adalah kerajaan islam tempat para pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri. Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yaitu kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati. Kereta tersebut saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan. Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Di dalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon.
2.      Tata letak dan arsitektur.
3.      Koleksi – koleksi yang ada di Keraton Kasepuhan Cirebon.
4.      Daya tarik Keraton Kasepuhan Cirebon.
5.      Wisata budaya Keraton Kasepuhan Cirebon.


1.3. Tujuan Penulisan

            Makalah yang dibuat oleh penulis pasti memiliki tujuan tersendiri sehingga mendorong penulis untuk membuat makalah tersebut.
Adapun tujuan penulisan tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Softskill Ilmu Budaya Dasar.
2.      Untuk mengetahui sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon yang berada di Jawa Barat.
3.      Untuk mengetahui tata letak dan arsitektur Keraton Kasepuhan Cirebon.

1.4. Manfaat Penulisan

1. Menambah wawasan bagi masyarakat sekitar maupun luar tentang daerah Cirebon.
2. Memahami lebih dalam ada apa saja kebudayaan yang berada di Cirebon.
3. Memberikan informasi yang informatif tentang Keraton Kasepuhan Cirebon.








BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1. Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kesepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang Menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506, beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kesepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Dan sebutan Pakungwati Berasal dari nama Ratu Ayu Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Putri itu cantik rupawan berbudi luhur dan bertubuh kokoh serta dapat mendampingi suami, baik dalam bidang Islamiyah, pembina negara maupun sebagai pengayom yang menyayangi rakyatnya. Akhirnya beliau wafat pada tahun 1549 didalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa dalam keadaan yang sangat tua, dari pengorbanan tersebut akhirnya nama beliau di abadikan dan dimulyakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.
Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan berbagai macam hukuman terhadap setiap rakyat yang melanggar peraturan seperti hukuman cambuk. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.
Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun. Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.
Saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman. Bangunan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu. Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambing dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Bangunan ini berasal dari budaya Hindu. Dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.

2.2. Tata Letak dan Arsitektur

Keraton Kasepuhan merupakan salah satu dari bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terawat dengan baik, seperti halnya keraton-keraton yang ada di wilayah Cirebon, bangunan keraton Kasepuhan menghadap ke arah utara .
Di depan keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu zaman dahulu bernama alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan dan juga sebagai titik pusat tata letak kompleks pemerintahan keraton. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan juga pentas perayaan kesultanan lalu juga sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan.
·         Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
·         Di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian yaitu pasar -- sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya.
            Model bentuk keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model tata letak keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.
Keraton Kasepuhan memiliki dua buah pintu gerbang, pintu gerbang utama keraton Kasepuhan terletak di sebelah utara dan pintu gerbang kedua berada di selatan kompleks. Gerbang utara disebut Kreteg Pangrawit (bahasa Indonesia: jembatan baik ) berupa jembatan, sedangkan di sebelah selatan disebut Lawang sanga (bahasa Indonesia: pintu sembilan). Setelah melewati Kreteg Pangrawit akan sampai di bagian depan keraton, di bagian ini terdapat dua bangunan yaitu Pancaratna dan Pancaniti. Bangunan  Pancaratna berada di kiri depan kompleks arah barat berdenah persegi panjang dengan ukuran 8 × 8 m. Lantai tegel, konstruksi atap ditunjang empat sokoguru di atas lantai yang lebih tinggi dan 12 tiang pendukung di permukaan lantai yang lebih rendah. Atap dari bahan genteng, pada puncaknya terdapat mamolo. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat seba atau tempat yang menghadap para pembesar desa yang diterima oleh Demang atau Wedana. Secara keseluruhan memiliki pagar terali besi.
Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh di sekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi dengan ukuran 3,70 × 1,30 × 5 m sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng dengan ukuran 4,50 × 9 m, pada sisi sebelah timurnya terdapat bentuk banteng. Pada bagian bawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.
Saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara kompleks Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M.
Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri.
·         Mande Malang Semirang, bangunan utama yang terletak di tengah dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.
·         Mande Pendawa Lima, bangunan di sebelah kiri bangunan utama dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.
·         Mande Semar Tinandu, bangunan di sebelah kanan bangunan utama dengan 2 buah tiang yang melambangkan sua kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu.
·         Mande Pengiring, bangunan di belakang bangunan utama yang merupakan tempat para pengiring Sultan
·         Mande Karasemen, bangunan disebelah mande pangiring, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.

2.3. Koleksi – Koleksi yang Ada Di Keraton Kasepuhan Cirebon

Di dalam koleksi museum Keraton Kasepuhan yang menarik yang adalah kereta kuda, meriam Portugis, tandu permaisuri dan relief kayu yang menggambarkan persenggamaan antara laki-laki dan perempuan yang melambangkan kesuburan. Dalam kaitan ini, kita bisa melihat bagaimana pengaruh tradisi Hindu-Budha dalam sejarah pra-kolonial Jawa masih bertahan di dalam era kekuasaan raja-raja Islam di Jawa. Meriam portugis yang menjadi bagian koleksi museum kraton kasepuhan juga menunjukkan bagaimana hubungan sultan Cirebon tersebut dengan kekuatan maritim Eropa yang mulai merambah jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara pada abad 16 dan

koleksi penting lainnya dalam museum Keraton Kasepuhan adalah apa yang dikenal sekarang sebagai topeng Cirebon. Topeng ini adalah koleksi yang berasal dari periode Sunan Gunung Jati ini mewakili sebuah cerita tentang bagaimana seni lokal digunakan sebagai alat penyebaran agama Islam di wilayah Jawa Barat, yang dapat dibandingkan dengan penggunaan medium wayang oleh Sunan Kalijaga di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

2.4. Daya Tarik Keraton Kasepuhan Cirebon

Sebagai sebuah peninggalan sejarah peradaban besar, dengan luas 26 hektar, tentu ada sangat banyak daya tarik keunikan yang dimiliki keraton Kasepuhan Cirebon ini.

2.4.1. Keunikan Tatanan Jalan Masuk Keraton

Di sekeliling kompleks Kasepuhan, terdapat aliran air sebagai representasi laut. Hal ini memiliki arti kerendahan dan keluasan hati. Sebelum masuk ke keraton, pengunjung juga akan melewati jembatan di atas sungai kecil. Setelah melewati jembatan, pengunjung akan tiba di bagian depan keraton. Pada area ini terdapat taman kecil yang cantik dengan tanaman berwarna – warni. Tak lupa, pagar bata mengelilingi taman tersebut yang menjadi ciri khas keraton. Unsur budaya Hindu, Budha, dan Tiongkok pun terlihat jelas di sini. Dimana terdapat gapura bergaya Hindu Buda sebagai gerbang masuk. Untuk interior Tiongkok, gaya yang khas adalah tembok yang ditempeli keramik khas Tiongkok.

2.4.2. Keindahan Arsitektur

Memasuki kawasan Keraton, pengunjung akan disambut interior khas yang menawan. Bangunan yang di cat dominan warna putih berpadu dengan tembok bata yang khas. Ditambah lagi, taman penuh dengan pepohonan dan rumput hijau. Lingkungan keraton masih sangat asri, terawat dan tertata dengan rapi. Bangunannya masih berdiri kokoh seperti dahulu kala. Dikelilingi dengan tembok bata yang membuatnya terlihat aman. Pada bagian dalam keraton, terdiri dari bangunan utama serta singgasana raja. Ada pendopo yang menjadi ciri khas bangunan keraton. Ada juga bangunan museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah peninggalan keraton.

2.4.3. Akulturasi Agama dan Budaya

Istana kesultanan Cirebon ini memadukan unsur dari berbagai agama dan budaya dalam bangunannya. Keraton ini memadukan unsur budaya Jawa, Eropa, dan Tiongkok. Sementara 3 agama yang berpadu adalah agama Islam, Hindu, dan Budha.
Perpaduan ini ditunjukkan dalam bentuk bangunan serta adat yang dilakukan dalam keraton. Meski begitu, ajaran yang diajarkan pada keraton tetaplah ajaran agama Islam. Meski begitu, keharmonisan antar agama dan budaya tetap terjaga. Agama Islam digambarkan pada jumlah tiang penyangga pendopo. Ada yang berjumlah 5 melambangkan rukun Islam, dan berjumlah 6 melambangkan rukun iman. Untuk unsur budaya Tiongkok, diwujudkan dalam penataan kompleks yang didasarkan pada Feng Shui.
Ada banyak bangunan di dalam kompleks keraton. Beberapa diantaranya adalah bangunan seperti Bangsal Panembahan, Bangsal Parabayaksa, Bangsal Pringgadani, Gajah Nguling, Jinem Pangrawit, Jinem Arum, Langgar Alit, Bunderan Dewan Daru, Museum Kereta Barong, Gapura Gledegan, Langgar Agung, Gapura Loncenga, Siti Inggil, Lapangan Giyanti, Jembatan Pangruwit, dan Pancaratna.

2.5. Wisata Budaya Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan memiliki bangunan-bangunan sisa Kerajaan Cirebon yang bisa menjadi daya tarik wisata di Keraton Kasepuhan. Bangunan seperti Bangsal Panembahan, Bangsal Parabayaksa, Bangsal Pringgadani, Gajah Nguling, Jinem Pangrawit, Jinem Arum, Langgar Alit, Bunderan Dewan Daru, Museum Kereta Barong, Gapura Gledegan, Langgar Agung, Gapura Loncenga, Siti Inggil, Lapangan Giyanti, Jembatan Pangruwit, dan Pancaratna semua dijadikan objek wisata yang banyak dilirik wisatawan lokal maupun asing.
Selain itu, banyak juga fasilitas yang ada di Keraton Kasepuhan seperti Bangsal Pagelaran sebagai tempat aula diadakan acara-acara, pemandian sumur, sarana ibadah, sarana kebersihan, museum, pendampingan petugas, toilet, aula, lapangan parkir. Untuk menunjang wisata heritage keraton Kasepuhan, maka dibangun beberapa fasilitas baru yaitu Kasepuhan Gallery & Cullinary. Di restauran ini terdapat menu makanan khas Cirebon seperti nasi jamblang, nasi lengko, mie kocok, empal gentong, docang, tahu gejrot, aneka jus, kopi, dan teh poci. Sementara souvenir yang dijual terdiri dari batik, kerajinan, aksesoris.
Wasiat Syekh Syarif Hidayatullah yang berbunyi “Ingsun titip tajug lan fakir miskin” menjadi visi besar Keraton Kasepuhan. Jika diartikan secara kalimat, ialah “saya titip tajug dan fakir miskin”. Sebuah wasiat yang halus, tanpa memakai kata atau unsur pemaksaan, perintah. Jika ditelisik lebih jauh lagi makna dari wasiat tersebut tidak sebatas dua subyek tajug dan fakir miskin. Pesan ini mengandung pengertian yang lebih luas bahwa sebagai manusia, kita diajak untuk menjaga keseimbangan dalam hubungan antara “hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia)”. Dalam hal ini Keraton Kasepuhan, selain sebagai tempat wisata bisa mengedukasi supaya visi Syekh Syarif Hidayatullah dapat terwujud.



BAB III

PENUTUP


3.1. Kesimpulan

Salah satu peninggalan sejarah tersebut berupa bangunan megah yang berfungsi sebagai istana, atau biasa disebut keraton. Keraton yang cukup terkenal di Cirebon salah satunya adalah Keraton Kasepuhan.
Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Beliau bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Beliau wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan. Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya. Sedangkan bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih, yang didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja. Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan yaitu kereta Singa Barong. Saat ini, kereta tersebut tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.
Di depan Keraton Kesepuhan terdapat alun-alun yang pada waktu jaman dahulu bernama Alun-alun Sangkala Buana yang merupakan tempat latihan keprajuritan yang diadakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada waktu itu adalah Saptonan. Dan di alun-alun inilah dahulunya dilaksanakan berbagai macam hukuman terhadap setiap rakyat yang melanggar peraturan seperti hukuman cambuk. Di sebelah barat Keraton kasepuhan terdapat Masjid yang cukup megah hasil karya dari para wali yaitu Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Sedangkan di sebelah timur alun-alun dahulunya adalah tempat perekonomian berupa pasar (sekarang adalah pasar kesepuhan yang sangat terkenal dengan pocinya). Model bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur serta alun-alun ditengahnya merupakan model-model Keraton pada masa itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, model ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten/kota terutama di Jawa, yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun dan di sebelah baratnya terdapat masjid.
Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang dahulunya merupakan tempat berkumpulnya para punggawa Keraton, lurah atau pada jaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti yang merupakan tempat para perwira keraton ketika diadakannya latihan keprajuritan di alun-alun.
Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada jaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Di pelataran depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek jaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451 saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. 
Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman. Bangunan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun Islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan.Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu. Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambing dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. 
Bangunan ini berasal dari budaya Hindu. Dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini. Itulah sekelumit sejarah singkat beserta deskripsi bangunan (ruang) dari keraton Kasepuhan Cirebon yang merupakan kekayaan peninggalan dari masa lampau yang kini menjadi kebanggaan masyarakat Cirebon pada khususnya. Keraton Kesepuhan ini juga merupakan cagar budaya yang harus kita jaga bersama demi kelestariaanya.


3.2. Saran

Adapun saran yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca adalah agar makalah ini dapat menambah pengetahuan lagi mengenai kebudayaan Indonesia tetatnya di daerah Cirebon. Selain itu, diharapkan juga agar para pembaca dapat mengenal atau mengetahui kebudayaan yang ada. Sehingga, kita dapat bersama-sama melestarikan budaya yang ada di Cirebon yang ada. Agar kita tidak lebih banyak lagi kehilangan budaya kita.



Transformasi Digital pada Fungsi-Fungsi MSDM dan Dampak Pandemi Covid terhadap MSDM

Nama     : Alissa Qotrunnada Munawwaroh NPM     : 10219545 Kelas     : 3EA09 Transformasi Digital pada Fungsi-Fungsi MSDM       Kehadiran in...