Nama : Alissa Qotrunnada Munawwaroh
NPM : 10219545
Kelas : 3EA09
Transformasi Digital pada Fungsi-Fungsi MSDM
Kehadiran internet pada awal tahun 1990-an mengubah lanskap kehidupan manusia. Sebelumnya, orang hanya mampu mencetak foto melalui roll, tetapi sekarang bisa mencetaknya melalui komputer, laptop bahkan ponsel. Adanya proses digital ke kehidupan manusia membuat perubahan besar. Mulai dari belajar, berwisata, berbelanja, hingga hidup telah tergantung dengan teknologi. Transformasi digital tidak hanya berbicara tentang teknologi melainkan juga kemampuan pebisnis untuk mengolah strategi. Jika data yang dianalisis secara sistem mampu memberi dampak positif pada perusahaan, hasilnya akan berujung dinamis.
Manusia yang sudah sejak lahir sudah hidup dalam ekosistem digital. Masalahnya adalah, para pengambil keputusan penting dalam organisasi, kerap masih diisi oleh mereka yang tergolong imigran digital atau bahkan sama sekali generasi analog. Keengganan para eksekutif atau pemimpin puncak untuk melihat realitas yang telah tersebut sering menjadi penghambat terbesar dalam transformasi digital. Pandemi global Covid-19 menguatkan fenomena tersebut. Pandemi ini telah menghentikan aktivitas fisik semua orang dan memaksa mereka untuk tinggal di rumah secara tiba-tiba. Pertemuan daring/virtual menjadi wajib. Pengiriman barang atau dokumen menjadi serba digital. Operasi bisnis harus dibelokkan ke dalam arus utama dunia digital. Kemudian kita menyaksikan, siapa yang gagal atau terbata-bata merespons situasi, siapa yang relatif mulus menjalankannya, dan siapa yang paling mendapatkan keuntungan dari sana.
Manajemen SDM dalam paradigma lama sering kali dilihat atau dipersepsikan sebagai manajemen pendukung yang menopang setiap karyawan dalam organisasi untuk menjalankan tugasnya. Itu tidak salah. Tetapi, itu hanya merupakan salah satu saja. Manajemen SDM dalam konteks kehidupan digital hari ini, dituntut untuk meluaskan cakrawala untuk menjadi pemimpin dan pendorong dalam seluruh proses transformasi digital organisasi. Karena itu, manajemen SDM dituntut untuk merancang organisasi, proses bisnis, pengelolaan talenta ke dalam praktik baru berbasis digital yang ditandai dengan adanya budaya inovasi dan berbagi (innovation and sharing). Memetakan setiap potensi individu dalam organisasi atau korporasi dengan demikian menjadi sangat penting, karena budaya inovasi dan berbagi hanya dimungkinkan ketika tersedia infrastruktur yang memungkinkan berlangsungnya proses berinovasi dan saling berbagi tersebut.
Dengan demikian, yang dituntut dalam organisasi atau korporasi tidak semata-mata bekerja digital (do digital) tetapi menjadi digital (be digital). Bekerja digital itu sudah keharusan, tetapi menjadi digital, itu adalah perubahan paradigma atau pola pikir (mindset). Mengubah pola pikir be digital memerlukan upaya yang jauh lebih serius dan kompleks ketimbang hanya bekerja digital atau do digital. Do digital hanya mengandaikan tersedianya perangkat, sedangkan be digital mengandaikan adanya upaya untuk membangun sistem yang end to end, mulai dari manusianya, lingkungan kerjanya, sampai dengan platform yang digunakan. Apabila organisasi dan korporasi mampu mengoperasikan proses bisnis dan “memaksa” setiap entitas atau unit di dalam organisasi menjadi digital, tidak sekadar bekerja digital, kemungkinan untuk dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang didorong oleh kehadiran teknologi atau fenomena pandemi seperti sekarang ini, tentu semakin besar. Karena dalam setiap zaman atau setiap situasi apa pun, paradigma dan nasihat lama tetap berlaku: “Bukan mereka yang paling besar dan paling kuat yang dapat bertahan, melainkan mereka yang lincah dan cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan baru yang sedang terjadi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar